Monday, 5 December 2011
HAKIKAT TAWAKAL
Suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut, Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun? Sebesar biji gandum, jawabnya.
Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Nabi Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu. Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya? tanya Nabi Sulaiman. Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah, jawab si semut. Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahawa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Kerana itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya.
Inilah sifat tawakal dan ikhtiar yang kita boleh pelajari dari semut. Jangan sekali-kali bergantung kepada sesama makhluk dalam soal usaha dan rezeki. Bergantung dan yakinlah kepada Allah . Bertawakallah kepada ALLAH dan berikhtiarlah dengan keupayaan sendiri. Jika tidak, kita akan dikecewakan oleh manusia dengan janji-janjinya. JADILAH SEPERTI SEMUT ITU..
Islam..
Islam,
Islam agamaku....
Islam agama kamu....
Islam agama untuk semua....
Islam,
Islam memberi hidayah....
Islam membawa cahaya....
Islam mengajar peraturan....
Islam membentuk perpaduan
Islam sinar kebahagian....
Islam,
Islam bukan pada nama....
Islam bukan pada bangsa....
Islam bukan pada harta....
Islam bukan pada pangkat....
Islam,
Islam duniaku ! Dunia dimana ku merasa sempurna....
Islam nyawaku ! Nyawa yang begitu melekat dalam ragaku.....
Islam inspirasiku ! Inspirasi yang begitu memotivasiku.....
Islam tongkatku ! Tongkat yang mampu menegakanku....
Islam,
Islam Agamaku !!!
Islam Rumahku !!!
Islam Sahabatku !!!
Islam Surgaku !!!
Islam,
Kau selalu menuntunku.....
Menuntunku ke dalam surga hidupku.....
Tak kan lekang oleh waktu.....
InysaAllah…
~ Ketabahan Seorang Istri ~
Bismillahirr Rahmanirr Rahim ...
Beberapa bulan yang lalu, teman baik saya (dia tidak bekerja dan punya dua orang anak laki-laki yang masih kuliah dan sekolah SMA) kehilangan suaminya yang meninggal karena infeksi tetanus.
Yang membuat saya sangat terkesan pada teman tersebut adalah ketabahan dan ketawakalannya ketika menghadapi musibah tersebut, yang mungkin bagi sebagian orang terutama wanita (yang kebetulan tidak bekerja dan bahkan anaknya masih banyak membutuhkan biaya sekolah) yang ketika menghadapi peristiwa serupa akan merasa bahwa langit serasa runtuh, bumi serasa hancur dan harapan ke depan bagaikan berjalan pada jalan yang buntu.
Akan tetapi, teman saya sama sekali tidak menampakkan kesedihan yang berlebihan.. apalagi pingsan (sehingga saya berpikir "seandainya hal serupa terjadi pada saya, apa saya mampu seperti itu?").
Ketika dia diberitahu oleh perawat dan dokter bahwa suaminya telah tiada, dia tidak menjerit atau meraung histeris atau pingsan...tetapi dia katakan "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...kepastian dari Allah telah datang dan Allah lebih mencintainya daripada saya mencintainya".
Kemudian dia masuk ke ruangan tempat suaminya terbaring dan mencium kening suami seraya mengatakan "mudah-mudahan Allah menempatkan aba (panggilan pada suaminya) dalam tempat yang sebaiknya...tugas aba telah selesai, tinggal saya yang harus melanjutkannya...dan saya yakin bahwa Allah juga akan memberikan jalan yang terbaik pula dengan peristiwa ini. Selamat jalan dan beristirahatlah dengan tenang"
Dokter dan perawat yang melihat keadaan tersebut tercengang sambil mengatakan "selama bertahun-tahun saya bertugas baru kali ini saya menemui ibu yang begitu tabahnya menghadapi kematian suaminya. Seumumnya yang saya temui seorang wanita akan pingsan atau menjerit histeris mendengar berita yang sama"
Tidak hanya dokter atau perawat yang begitu tertegun, sebagai temannya justru saya yang menangis melihat keadaan seperti itu... melihat dia dengan tabahnya mencium kening suaminya dengan tanpa airmata dan menemui serta menyambut ucapan bela sungkawa para kerabat, kolega, tetangga dengan senyum (walau raut wajahnya menampakkan sedih yang mendalam) bahkan mampu bercerita dengan tenang tanpa airmata.
MasyaAllah....(Akankah kita mampu seperti itu?)
Ketika saya tanyakan kepadanya "Bagaimana dia mampu seperti itu?"
Jawabannya adalah "semua yang terjadi adalah suatu kepastian dari Allah, yang semua manusia akan sampai kepada waktu tersebut. Sehingga apapun yang telah ditentukan oleh Allah SWT, pasti Allah SWT punya rancangan pasti pula bagi saya dan anak-anak untuk maju berderap ke depan. Saya juga yakin bahwa suami saya meninggal dalam keadaan struktural dan selalu mengarahkan "anak panah"nya untuk tunduk patuh dengan ajaran Allah yakni Al - Quran. Lalu apa yang harus saya risaukan? Andaikata saya...berteriak, meraung, meratapi kepergiannya, apatah juga dia kembali? Raungan, teriakan, ratapan hanya akan membuat langkah suami saya ke kedamaian terhalang dan membuat saya sendiri makin tenggelam ke perut bumi....dan akal pikiran sehat saya sebagai manusia akan mati pula mengikuti jasad suami...Yang jelas, tugas suami saya telah berakhir dan telah diminta istirahat oleh Allah. Tinggal kita sekarang yang masih harus berjalan menapaki jalan kita yang kita tidak tahu apakah akan berakhir dengan "khusnul khotimah" atau "syu'ul khotimah"..."beristirahat dengan tenang" atau "terpaksa diistirahatkan"...
Saya merenungkan apa yang dia katakan...
Mampukah saya seperti dia yang dengan sangat yakin dengan kepastian dan ketentuan dari Allah Ta'alla ....
Ya, saya juga harus yakin!
Semoga Bermanfaat
Salam Santun Ukhuwah Karena-NYA
Sunday, 4 December 2011
DI JENDELA USIA
Tuhan,
Pada-Mu aku pasrah
Akur, alah dan menyerah
Seluruhnya sudah pudar
Cintaku kian tercalar
Tuhan
Senjaku semakin dekat
Di sumur dosa aku melarat
Di hujung umur ku pasti kembali
Sedang hatiku tak suci lagi
Tuhan
Langkahku entahkan mati
Mendaki kasihMu nan tinggi
Namun cintaku bukan palsu
Walaupun sering terganggu
Tuhan
Kekadang terasa sayang-Mu
Bersama kurnia hidayah
Kekadang terasa murka-Mu
Seiring patahnya mujahadah
Tuhan,
Terlerai ribuan taubatku
Terungai semua janjiku
Kataku sering mungkir
CintaMu sering terpinggir
Tuhan,
Aku masih setia
Mengemis di jendela usia
Terus mencari wajah diri
Menadah keampunan Ilahi!
CERMIN ALAM
Air, langit dan gunung
Kekadang lebih dari sekadar pemandangan
Yang tersurat keindahan…
Yang tersirat pengajaran…
Air, langit dan gunung
Kekadang cubitan pada satu kealpaan
pada limpah selaut indah
mana titis sejemput sembah?
Air, langit dan gunung
Kekadang cermin satu perlambangan
… keteguhan Iman
… kelapangan Islam
… kelembutan Ihsan
teranyam kukuh di peribadi insan
Ya, Allah…
Kau teguhkan iman ku
Seteguh gunung itu…
Kau lapangkanlah Islam ku
Selapang langit biru…
Kau lembutkanlah ihsan ku
Selembut bayu lalu…
PUASA SUNAT HARI ASYURA'
Disunatkan kita berpuasa pada Hari Asyura’. Hari Asyura juga digelar Ayyamillah (Hari-hari Allah) iaitu hari-hari yang dinasabkan oleh Allah swt kepada diriNya. Allah swt telah menyuruh Nabi Musa as agar mengingatkan kaumnya tentang hari-hari tersebut dalam firmanNya : ﴿وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ﴾ bermaksud, “Dan ingatkanlah mereka tentang Hari-hari Allah”.
Maksud Hari-hari Allah ialah Ayat-ayatNya dan nikmat-nikmatNya seperti selamatnya Nabi Musa as dan kaumnya dari kekejaman Firaun, terbelahnya Laut, tenggelamnya Firaun dan tenteranya yang zalim lagi mendustakan Allah swt, Al-Mann dan Al-Salwa yang diturunkan dari langit untuk Bani Israel dan nikmat-nikmat yang lain.
Dari hadis riwayat Muslim berbunyi “إن عاشوراء من أيام الله..” bermaksud, “Sesungguhnya Asyura adalah dari Hari-hari Allah”. Dalam satu riwayat bermaksud, “… dengan nikmat Allah taala”.
Dalam satu hadis menyebut “هذا يوم عظيم يوم نجى الله فيه موسى وأغرق فرعون” bermaksud, “Hari ini adalah hari yang besar dimana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Firaun”. Sabdanya lagi “يوم صالح هذا يوم نجى الله بني إسرائيل من عدوهم” bermaksud,“Hari ini ialah hari yang baik di mana Allah menyelamatkan Bani Israel dari musuh mereka”.
Dalam satu riwayat yang lain Rasulullah saw bersabda“أظهر الله فيه موسى وبني إسرائيل على فرعون..” bermaksud,“Di hari tersebut (Asyura) Allah memenangkan Musa dan Bani Israel ke atas Firaun”.يعني رمضان) وعن ابن عباس “ما رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتحرى صيام يوم فضله على غيره إلا هذا اليوم يوم عاشوراء، وهذا الشهر (البخاري Tidak aku melihat Nabi saw berusaha berpuasa melebihi hari-hari lain selain hari ini, iaitu hari Asyura dan di bulan ini iaitu bulan Ramadan”.
Oleh itu hadis ini menunjukkan Hari Asyura merupakan hari yang paling afdhal untuk berpuasa selepas bulan Ramadan dan Hari Arafah.
Puasa di Hari Asyura menghapuskan dosa setahun. Ini adalah di antara anugerah Allah swt kepada manusia yang memang lumrah terdedah kepada kesilapan dan kelemahan. Allah swt menjadikan hari tersebut sebagai sebab untuk pengampunan dosa dan taubat.
Hari apakah kita disunatkan berpuasa Asyura ?
Kebanyakan Ulamak mengatakan sunat berpuasa pada Hari Kesepuluh bulan Muharram kerana Nabi saw berpuasa pada hari tersebut dan menyarankan kepada para Sahabatnya agar berpuasa sedemikian. Imam Al-Qurtuby berkata bahawa perkataan “Asyura” diambil dari perkataan Asyara bermakna “sepuluh” tapi dalam bentuk perkataan menunjukkan bersangatan (mubalaghah) dan mengagungkan (takzim).
Ibnu Al-Munir mengatakan kebanyakan Ulamak mengatakan “Asyura” adalah Hari Kesepuluh. Rujuk juga kitab Fath Al-Bari. Malik, Ahmad, Ishaq dan lain-lainnya juga berpendapat demikian. Turut menyokong pandangan mereka adalah riwayat Ibnu Abbas ra ويؤيده ما رواه ابن عباس “أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصوم عاشوراء يوم العاشر” (الترمذي: 755 حسن صحيح)،
yang bermaksud, “Rasulullah saw menyarankan puasa Asyura iaitu Hari Kesepuluh” (hadis hasan sahih riwayat At-Tarmizi).
Ibadat puasa adalah salah satu tunggak Islam terpenting dalam membina rijal Dakwah dan generasi masa depan Islam yang gemilang.
Pendapat sebahagian Ulamak ialah berpuasa sunat pada Hari Kesembilan bulan Muharram berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas
فقد سُئل ابن عباس عن صيام يوم عاشوراء فقال: إذا رأيت هلال المحرم فاعدد، وأصبح يوم التاسع صائمًا، قلت: هكذا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصومه؟ قال: نعم (رواه مسلم: 1133 وأبو داود: 2446 والترمذي: 754 وأحمد: 1/239: 2135 صحيح)
apabila ditanya tentang puasa Hari Asyura, dia berkata bermaksud, “Apabila kamu melihat anak bulan Muharram, kiralah hari-harinya dan jadilah seorang yang berpuasa pada Hari Kesembilan’. Aku bertanya, ‘Begitukah Rasulullah saw berpuasa?’. Dia menjawab, ‘Ya’’. (riwayat Muslim no 1133, Abu Daud no 2446, At-Tarmizi no 754, Ahmad no 239/1). Ibnu Al-Qayyim mengatakan yang disunatkan ialah Hari Kesembilan sahaja.
Pendapat sebahagian Ulamak ialah berpuasa pada kedua-dua Hari Kesembilan dan Hari Kesepuluh bulan Muharram berdasarkan hadis
“حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه قالوا: يا رسول الله! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم “فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا اليوم التاسع” قال: فلم يأت العام المقبل حتى تُوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم (مسلم: 1134/133)
bermaksud, “Pada hari Rasulullah saw berpuasa Hari Asyura (pada Hari Kesepuluh), para Sahabat ra berkata, ‘Ya Rasulullah, ia adalah hari yang disambut oleh orang-orang Yahudi dan Kristian, lalu Rasulullah saw bersabda, Tahun depan insyaAllah kita akan berpuasa pada Hari Kesembilan jika aku masih hidup’. Sebelum tiba tahun depan Rasulullah saw wafat”.
Oleh itu Imam Asy-Syafie ra, Ahmad dan sebahagian Ulamak mengatakan sunat berpuasa pada kedua-dua Hari Kesembilan dan Hari Kesepuluh agar tidak menyamai Yahudi dalam meraikan hanya satu hari sahaja. Dikalangan mereka ada yang mengatakan puasa Hari Kesembilan sebagai langkah hati-hati agar tidak terlepas kelebihan puasa Hari Asyura.
Puasa mendidik jiwa pemuda pemudi Dakwah menjadi ikhlas kerana ia adalah ibadah yang tidak boleh dilihat oleh manusia yang lain, mendidik jiwa menjadi kental kerana ia adalah perbuatan yang melawan arus nafsu makan dan syahwat, mendidik jiwa menjadi penyayang kerana berlapar mengingat dan menginsafkan dia akan kehidupan orang fakir dan miskin yang sering dilanda kelaparan dan serba kekurangan.
Pendapat sebahagian Ulamak pula ialah sunat berpuasaHari Kesembilan, Hari Kesepuluh dan Hari Kesebelas
berdasarkan hadis riwayat Ahmad
أي صيام: 9، 10، 11 للحديث: “صوموا يوم عاشوراء وخالفوا اليهود: صوموا قبله يومًا أو بعده يومًا”
bermaksud, “Berpuasalah kamu di Hari Asyura dan kamu bezakanlah dengan (amalan) orang-orang Yahudi. Oleh itu berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari selepasnya”.
Ringkasnya, yang paling afdhal ialah berpuasa pada ketiga-tiga hari ke 9, 10 dan 11 Muharram. Jika tidak upaya maka berpuasalah pada hari ke 9 dan 10 Muharram. Jika tidak upaya maka berpuasa sunatlah pada hari ke 10 Muharram.
Diriwayatkan bahawa generasi Islam terdahulu suka melatih kanak-kanak kecil berpuasa Hari Asyura dengan cara membawa mereka ke masjid dan membuatkan untuk mereka alat permainan di sana. Jika sesiapa dari mereka yang menangis kerana lapar, dia akan diberi alat mainan tersebut sehingga dia asyik bermain sehingga tiba waktu berbuka puasa
(rujuk syarah hadis Muslim no 1136).
Kita berdoa kepada Allah swt agar diterima puasa dan amal ibadat kita di Hari-hari yang mulia ini, meningkatkan keperibadian Islam pada diri, keluarga dan masyarakat kita ke arah mendaulatkan kembali Islam di Negara, rantau dan dunia ini. Ameen.
Pantun Orang Malas Solat
Untuk diriku dan kawan-kawanku yang tersayang…
Apasal la aku malas sembahyang,
... Tuhan kasi aku jasad siap dengan bayang-bayang,
Bukan ke lebih beruntung daripada tiang,
Berdiri tanpa roh malam siang…
Apasal la aku malas sembahyang,
Kerja dah best keluarga pun dah senang,
negara pun dah aman tidak lagi hidup berdagang,
takkan 10 minit , Setiap satu waktu aku tak boleh luang...
Apasal la aku malas sembahyang,
Tuhan kasi otak supaya aku tak bangang,
Tuhan kasi ilmu boleh fikir susah senang
Tuhan kasi nikmat kenapa aku tak kenang…
Apasal la aku malas sembahyang,
Main bola aku sanggup sampai petang,
Beli tiket konsert aku sanggup beratur panjang
Apa la aku ingat masuk syurga bo leh hutang…?
Apasal la aku malas sembahyang,
Aku kena ingat umur kita bukannya panjang
Pagi kita sihat petang boleh kejang,
Nanti dalam kubur kena balun sorang-sorang….
Apasal la aku malas sembahyang
siksa neraka cuba la aku bayang,
Perjalanan akhirat memang terlalu panjang,
Janji Allah Taala akan tertunai tak siapa boleh halang!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)






